{"id":1526,"date":"2019-10-23T08:22:55","date_gmt":"2019-10-23T01:22:55","guid":{"rendered":"https:\/\/af.co.id\/62\/?p=1526"},"modified":"2019-10-23T08:35:08","modified_gmt":"2019-10-23T01:35:08","slug":"kecerdasan-emosional-membantu-sukses-dalam-pekerjaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/af.co.id\/62\/?p=1526","title":{"rendered":"Kecerdasan Emosional Membantu Sukses Dalam Pekerjaan"},"content":{"rendered":"\n<p> Istilah <strong>Kecerdasan Emosional <\/strong>(Emotional Intelligence)  mulai populer sejak diperkenalkan secara massal pada tahun 1995 oleh  Daniel Goleman lewat bukunya berjudul <em>Emotional Intelligence \u2013 Why It Can Matter More Than IQ. <\/em>Sebenarnya  istilah ini sudah muncul sebelumnya dan sebagai terminologi dipakai  dalam tesis doktoral Wayne Payne di tahun 1985. Untuk sejarah lebih  lengkap dapat Anda baca <a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Emotional_Intelligence\">di sini.<\/a><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa Itu Kecerdasan Emosional?<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Ada banyak perbedaan pendapat tentang apa yang dimaksud dengan \nkecerdasan emosional. Secara relatif bidang ini dianggap masih baru \ndalam Psikologi dan masih mencari bentuknya yang lebih mantap. Secara \nsederhana saya mencoba memahaminya sebagai:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>kemampuan mengenali emosi diri sendiri<\/li><li>kemampuan mengendalikan emosi dan mengambil tindakan yang tepat<\/li><li>kemampuan mengenali emosi orang lain<\/li><li>kemampuan bertindak dan berinteraksi dengan orang lain<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Dengan demikian orang yang cerdas secara emosional adalah orang yang \nmemahami kondisi dirinya, emosi-emosi yang terjadi, serta mengambil \ntindakan yang tepat. Orang tersebut juga secara sosial mampu mengenali \ndan berempati terhadap apa yang terjadi pada orang lain dan \nmenanggapinya secara proporsional.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kecerdasan Emosional dan Realita Dunia Kerja<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Dalam bukunya yang terkenal itu, Daniel Goleman menyebutkan disamping\n Kecerdasan Intelektual (IQ) ada kecerdasan lain yang membantu seseorang\n sukses yakni Kecerdasan Emosional (EQ). Bahkan secara khusus dikatakan \nbahwa kecerdasan emosional lebih berperan dalam kesuksesan dibandingkan \nkecerdasan intelektual. Klaim ini memang terkesan agak dibesarkan \nmeskipun ada beberapa penelitian yang menunjukkan kebenaran ke arah \nsana. Sebuah studi bahkan menyebutkan IQ hanya berperan 4%-25% terhadap \nkesuksesan dalam pekerjaan. Sisanya ditentukan oleh EQ atau \nfaktor-faktor lain di luar IQ tadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika kita melihat dunia kerja, maka kita bisa menyaksikan bahwa \nseseorang tidak cukup hanya pintar di bidangnya. Dunia pekerjaan penuh \ndengan interaksi sosial di mana orang harus cakap dalam menangani diri \nsendiri maupun orang lain. Orang yang cerdas secara intelektual di \nbidangnya akan mampu bekerja dengan baik. Namun jika ingin melejit lebih\n jauh dia membutuhkan dukungan rekan kerja, bawahan maupun atasannya. Di\n sinilah kecerdasan emosional membantu seseorang untuk mencapai \nkeberhasilan yang lebih jauh.<\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan pengalaman saya sendiri dalam proses rekrutmen karyawan, \nseseorang dengan nilai IPK yang tinggi sekalipun dan datang dari \nUniversitas favorit tidak selalu menjadi pilihan yang terbaik untuk \ndirekrut. Ada kalanya orang yang pintar secara intelektual kurang \nmemiliki kematangan secara sosial. Orang seperti ini bisa jadi sangat \ncerdas, memiliki kemampuan analisa yang kuat, serta kecepatan belajar \nyang tinggi. Namun jika harus bekerja sama dengan orang lain dia \nkesulitan. Atau jika dia harus memimpin maka akan cenderung memaksakan \npendapatnya serta jika harus menjadi bawahan punya kecenderungan sulit \ndiatur.<\/p>\n\n\n\n<p>Orang seperti ini mungkin akan melejit jika bekerja pada bidang yang  menuntut keahlian tinggi tanpa banyak ketergantungan dengan orang lain.  Namun kemungkinan besar dia akan sulit bertahan pada organisasi yang  membutuhkan kerja sama, saling mendukung dan menjadi sebuah <strong>\u201csuper team\u201d<\/strong>, bukan \u201csuper man\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Tentunya tidak semua orang yang cerdas secara intelektual seperti \nitu. Dan bukan berarti kecerdasan intelektual tidak penting. Dalam dunia\n kerja kecerdasan intelektual menjadi sebuah prasyarat awal yang \nmenentukan level kemampuan minimal tertentu yang dibutuhkan. Sebagai \ncontoh beberapa perusahaan mempersyaratkan IPK mahasiswa minimal 3.0 \natau 2.75 sebagai syarat awal pendaftaran. Hal ini kurang lebih \nmemberikan indikasi bahwa setidaknya kandidat tersebut telah belajar \ndengan baik di masa kuliahnya dulu.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah syarat minimal tersebut terpenuhi, selanjutnya kecerdasan \nemosional akan lebih berperan dan dilihat lebih jauh dalam proses \nseleksi. Apakah dia punya pengalaman yang cukup dalam berorganisasi? \nApakah calon tersebut pernah memimpin atau dipimpin? Apa yang dia \nlakukan ketika menghadapi situasi sulit? Bagaimana dia mengelola \nmotivasi dan semangat ketika dalam kondisi tertekan? Dan banyak hal lagi\n yang akan diuji.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam dunia kerja yang semakin kompetitif, kemampuan seseorang \nmenangani beban kerja, stres, interaksi sosial, pengendalian diri, \nmenjadi kunci penting dalam keberhasilan. Seseorang yang sukses dalam \npekerjaan biasanya adalah orang yang mampu mengelola dirinya sendiri, \nmemotivasi diri sendiri dan orang lain, dan secara sosial memiliki \nkemampuan dalam berinteraksi secara positif dan saling membangun satu \nsama lain. Dengan cara ini orang tersebut akan mampu berprestasi baik \nsebagai seorang individu maupun tim.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Beberapa Karakteristik Orang Yang Sukses dalam Pekerjaan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Jika kita melihat orang yang sukses dalam pekerjaan, ada beberapa karakteristik umum yang mirip satu sama lain:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Bekerja dengan sepenuh hati dan riang<\/li><li>Memiliki prestasi dalam pekerjaan sebagai individu dan tim<\/li><li>Mampu mengelola konflik<\/li><li>Mampu menghadapi dan menjalankan perubahan<\/li><li>Memiliki empati terhadap atasan, bawahan dan rekan kerja<\/li><li>Mampu membaca dan mengenali emosi diri sendiri maupun orang lain serta mengambil tindakan yang tepat dalam menanganinya<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Jika kita perhatikan, maka hampir semua daftar di atas akan dimiliki  oleh orang yang cerdas secara emosional. Khusus untuk item nomor dua  diperlukan kecerdasan intelektual yaitu bagaimana seseorang bisa menjadi  ahli di bidangnya. Memiliki pengetahuan dan skill yang mumpuni agar  bisa berprestasi secara individu. Selanjutnya kecerdasan emosional akan  membantunya berprestasi pula sebagai tim bersama rekan kerja, bawahan  maupun atasannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara sederhana, ada dua kelompok keahlian yang dimiliki orang yang cerdas secara emosional:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li><strong>Kemampuan Pribadi<\/strong>\n<ul><li><strong>Pengenalan diri (Self Awareness), <\/strong>memahami emosi, batasan yang dapat dicapai, kemampuan, kekuatan dan kelemahan.<\/li><li><strong>Manajemen diri (Self Management), <\/strong>mampu mengendalikan diri menghadapi berbagai situasi<\/li><li><strong>Orientasi Tujuan (Goal Orientation), <\/strong>mengetahui apa yang menjadi tujuannya dan menyusun langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapainya.<\/li><\/ul>\n<\/li><li><strong>Kemampuan Sosial<\/strong>\n<ul><li><strong>Empati: <\/strong>mengenali perasaan dan emosi orang lain serta mampu menempatkan diri dalam posisi tersebut.<\/li><li><strong>Keahlian sosial (Social skills): <\/strong>mampu berinteraksi\n dengan orang lain, bekerjasama, mengelola konflik serta bersikap dengan\n tepat terhadap berbagai situasi perasaan dan emosi orang lain.<\/li><\/ul>\n<\/li><\/ol>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Melatih Kecerdasan Emosional<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Sejak kecil kita telah memiliki emosi dan berinteraksi dengan emosi  tersebut. Kebiasaan kita dalam menanganinya akan terus terbawa dan  menjadi karakter seseorang ketika dewasa. Dengan demikian, alangkah  berbahagianya seorang anak yang memiliki orangtua yang peka dan pelatih  emosi yang baik. Anak seperti ini akan berlatih menangani dirinya sejak  masa kecil. <\/p>\n\n\n\n<p>Bagaimana jika ketika dewasa kita kurang memiliki kematangan secara \nemosional? Jawabannya adalah kecerdasan tersebut dapat dilatih. Cara \npaling awal adalah dengan mengenali emosi diri Anda ketika terjadi. \nKenali apa saja yang berkecamuk dalam dada Anda dan suara-suara yang \nmemerintahkan Anda untuk bertindak. Tahapan berikutnya adalah melakukan \nkontrol diri terhadap berbagai bentuk emosi yang ada. Bagaimana Anda \nmengendalikan diri ketika marah, tidak terpuruk ketika merasa kecewa, \ndapat bangkit dari kesedihan, mampu memotivasi diri dan bangkit ketika \ntertekan, mengatur diri dari kemalasan, menetapkan target yang menantang\n namun wajar, serta bisa menerima keberhasilan maupun kegagalan dengan \nlapang dada.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika hal tersebut sudah Anda kuasai, selanjutnya adalah melatih  kematangan sosial. Bagaimana Anda berempati \u2013 merasakan apa yang  dirasakan orang lain \u2013 sehingga bisa memberi respon yang tepat terhadap  sinyal-sinyal emosi yang ditampilkan orang lain. Kematangan ini akan  mudah dikembangkan jika Anda aktif terlibat dalam organisasi,  bekerjasama dengan orang lain dan memiliki interaksi sosial yang intens.  Latihlah kemampuan Anda dalam memimpin dan dipimpin, memotivasi orang  lain, serta mengatasi dan mengelola konflik.<\/p>\n\n\n\n<p>Memahami emosi sangat membantu dalam mengenali  diri dalam tahap awal. Selanjutnya adalah mengenali dan mengendalikan  oknum-oknum yang saling berperang dalam diri: berbagai keinginan,  kesombongan, iri hati, dengki, kebencian, amarah dan sifat-sifat  lainnya. Cerdas secara emosional akan membantu Anda pada tahap awal  untuk mengenali diri dengan lebih baik, sekaligus bersikap positif dan  melatih kematangan menghadapi kehidupan, apapun yang terjadi: susah atau  senang, sukses atau gagal, mudah atau sulit.<\/p>\n\n\n\n<p>Selamat belajar &amp; bekerja<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Istilah Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence) mulai populer sejak diperkenalkan secara massal pada tahun 1995 oleh Daniel Goleman lewat bukunya berjudul<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout","pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[108],"tags":[],"class_list":["post-1526","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pengetahuan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/af.co.id\/62\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1526","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/af.co.id\/62\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/af.co.id\/62\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/af.co.id\/62\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/af.co.id\/62\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1526"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/af.co.id\/62\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1526\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1529,"href":"https:\/\/af.co.id\/62\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1526\/revisions\/1529"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/af.co.id\/62\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1526"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/af.co.id\/62\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1526"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/af.co.id\/62\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1526"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}